Rabu, Oktober 26, 2011

Kengerian Siksa Neraka


Telah kita ketahui bersama bahwasannya Allah sebagai pencipta seluruh alam semesta tidak membiarkan manusia sia-sia begitu saja hidup tanpa aturan, tanpa dibalas amalan-amalan yang telah mereka kerjakan. Akan tetapi Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul yang memperingatkan manusia dari siksaan neraka serta memberikan kabar gembira dengan surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Lalu, apakah semua bani Adam mengimani Rasul yang telah Allah utus tersebut? Tidak! bahkan kebanyakan manusia ingkar. Manusia yang ingkar dan mendustakan para utusan Allah tersebut telah diancam akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih berupa neraka yang menyala-nyala.
Sifat-sifat neraka yang Allah siapkan bagi para penentang Rasul-Nya, yang Allah sediakan bagi orang-orang yang selalu berlumuran dengan dosa, sangatlah banyak disebutkan, baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah As-Shohihah.
Di antara sifat-sifat neraka tersebut yaitu:

Tingkatan dalam Mengingkari Kemungkaran


            Agama islam merupakan agama yang sangat sempurna, semua permasalahan-permasalahan manusia telah dijelaskan di dalam islam, dari perkara yang terkecil terlebih lagi perkara besar. Termasuk urusan yang ada serta disebutkan tentang tata caranya adalah tentang permasalahan Ingkarul munkar, mengingkari suatu kemungkaran. Maka di dalam mengingkari kemungkaran terdapat beberapa marotib atau tingkatan-tingkatan dalam menyampaikannya, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً، فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
"Barangsiapa menyaksikan suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila dia tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu juga maka wajib mengingkari dengan hatinya dan ini merupakan selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)

Kiat Sukses Menjadi Muslim Yang Kokoh


Akibat lemahnya kaum muslimin
Sering kita jumpai pada zaman yang sudah renta ini seorang yang mengaku muslim, tetapi muslimnya hanya sebatas pengakuan lisan atau sekedar tulisan "islam" yang tertera di KTP-nya saja. Pada hakikatnya ia jauh dari nilai-nilai keislaman yang sebenarnya, shalat wajib jarang dilaksanakan bahkan ada juga yang shalatnya hanya 2 kali dalam setahun yaitu shalat hari raya idhul fitri dan idhul adzha saja, apalagi akhlaknya jauh dari panutan kita yaitu Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, dalam pergaulan sehari-hari pun isinya hanya menyianyiakan waktu dan menghambur-hamburkan harta. Mungkin ini gambaran yang pas untuk muslim yang tidak kokoh dalam beragama.
Maka dampak yang ditimbulkan yang paling besar menimpa kaum muslimin adalah terjadinya kelemahan dan kehinaan pada mereka. Hal ini disebabkan karena mereka telah terjangkit penyakit ganas yang sulit diobati yaitu penyakit "wahn", cinta dunia dan takut mati sehingga mereka tidak berdaya di hadapan musuh-musuh mereka. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

Nasehat Ibrahim Ibn Adham Tentang Maksiat


Ada kisah seorang lelaki yang mendatangi Ibrahim ibn Adham. Ibrahim Ibn Adham adalah seorang ahli tabib ahli jiwa. Lelaki itu berkata kepada Ibrahim, “Aku adalah orang yang menyakiti diri sendiri (berbuat dosa). Tunjukkanlah kepadaku hal-hal yang bisa membuatku jera !" 
Ibrahim menasehatinya, “Jika kamu melakukan lima hal ini, kamu tidak akan termasuk orang-orang yang melakukan maksiat. Lelaki itu berkata (ia sangat bersemangat untuk mendengar nasehat si tabib), “Berikanlah apa (nasehat) yang engkau punyai wahai Ibrahim!” Maka Ibrahim menyebutkannya.

Pertama, jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan sesuatupun dari rizkiNya.” Orang itu pun terheran-heran dan kemudian berkata dengan nada bertanya, “Bagaimana engkau mengatakan hal itu wahai Ibrahim padahal semua rizki datangnya dari Allah Ta'ala?” Ibrahim menjawab, “Jika kamu mengetahui hal itu, apa pantas kamu memakan rizkiNya sedangkan engkau berbuat maksiat terhadap Nya.” Orang itu berkata, “Tidak, wahai Ibrahim. Kemudian apa yang kedua?” Ibrahim melanjutkan,

Meraih Kembali Kejayaan Islam


Kalau kita mau memperhatikan sejenak, sungguh umat ini tengah tertimpa kelemahan, kehinaan dan bencana yang membinasakan. Kebanyakan musibah dan ujian ini disebabkan lalainya kaum muslimin terhadap sebab-sebab yang mendatangkan bencana dan malapetaka. 
Allah berfirman :
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُم
 “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS.As-Syuraa : 30)

Seandainya umat Islam, seluruh kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan beserta para pemimpinnya kembali kepada ajaran Islam yang benar, mentadabburi kitabullah dan sunnah Rasulullah, mengamalkan hukum-hukum dan hikmahnya, niscaya mereka akan meraih pertolongan Allah  atas musuh-musuh mereka dan kejayaan Islam yang diidam-idamkan akan segera terwujud.
Rasulullah bersabda :
سَلَّطَ اللهُ عَلَيكُمْ ذُلاً, لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
            “Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian yang kehinaan itu tidak akan dicabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian (yang haq).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah: 11)

MEMPERBANYAK MENGINGAT MATI

Dunia tidak abadi, dan pasti akan binasa, begitu juga dengan penghuninya, manusia, Ya, kematian adalah akhir dari yang kehidupan, termasuk manusia. Tidak ada tempat berlari dan bersembunyi dari kematian. seseOrang bisa saja berlari dari sesuatu tapi tidak dengan kematian, walaupun ia bersembunyi di balik benteng yang ko-koh, Mendaki langit dengan alat canggih tidak akan bisa menghindarkan seseorang dari kematian. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, ken-datipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (An-Nisa`: 78).
Ajal kematian setiap manusia telah ditulis oleh Allah pada saat dia masih berupa janin di dalam rahim ibunya dalam umur seratus dua puluh hari, kematian itu ditulis bersamaan dengan rizki, amal, kebahagiaan, dan kesengsaraannya.

وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (Luqman: 34).

Oleh karena itu, ketika ajal datang, dia merasa tidak mungkin selamat darinya. Maka dalam kondisi tersebut dia berharap diberi peluang dan kesempatan untuk memper-baiki apa yang selama ia lalaikan apa yang selama ini ia tinggalkan, akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang berlalu tidak mungkin diputar ulang dan penyesalan selalu datang di belakang.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

Senin, Februari 21, 2011

Dunia kehidupan sementara

Bertaqwalah kepada Allah! Takutlah akan kepedihan siksaan-Nya serta renungkanlah firman-Nya:
“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu dirimu, dan jangan (pula) pendusta (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah". (QS. Lukman: 33)
Allah telah memperingatkan dengan tegas akan bahaya dua fitnah yang akan menyebabkan seorang hamba lalai untuk menyiapkan bekal menuju alam yang kekal, dua fitnah ini yaitu fitnah kehidupan dunia dan fitnah tipu daya syaiton.
Betapa banyak kita jumpai di dalam kitabullah peringatan-peringatan tegas terhadap bahaya tertipu kehidupan dunia, ayat-ayat yang menyebutkan rendahnya kehidupan dunia serta cepatnya kehancuran dunia.
Ketahuilah! Dunia merupakan tempat untuk menebus akhirat, tempat mencari bekal menuju surga atau tempat yang akan menjerumuskan manusia kelembah api neraka. Bukan untuk menumpuk harta dan bersenang-senang saja.
Wahai manusia yang terhina mencari dunia, wahai manusia yang tertipu dengan kepalsuan indahnya dunia! Karena apa engkau terhina? Mengapa engkau tertipu kehidupan dunia? Apakah karena kemewahan hidup orang tuamu? Apa karena hartamu yang melimpah? Apakah karena istanamu yang megah? Maka renungkanlah, betapa banyak manusia yang mewarisi harta yang banyak tetapi tidak ada gunanya! Betapa banyak manusia yang tertimpa penyakit yang sangat mengharapkan kesembuhan padahal kehidupan mereka bergelimang dengan harta benda! Apakah mereka merasa bahagia dengan dunia yang telah mereka punya? Tidak! Sekali kali tidak! Akan tetapi dunia hanyalah tempat ujian dan cobaan.
Maka, ketahuilah! Semoga kalian mendapat petunjuk, bukanlah kehidupan dunia serta melimpahnya harta benda sebagai bekal yang harus dipunya, akan tetapi bekal yang paling utama adalah taqwa.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa” (QS. Al-Baqarah: 197)